Cerita Lucu Pendek di Sekolah

Kekalutan di Kategori:

Jadi di kategori 8 aku kerap membaca di kategori. Dikala itu aku lagi membaca novel Artemis Fowl, serta buat sebagian alibi aku mempunyai 2 kopian dari novel yang serupa. Jadi sesuatu hari di kategori bahasa Inggris aku, kita membaca novel lain ini( yang telah aku selesaikan membaca 3 hari tadinya), aku lagi membaca novel aku sendiri serta kala kesimpulannya kesempatan aku membaca, aku tidak ketahui di mana kita terletak. Jadi guru mengutip novel aku, aku menciptakan tempat aku, membaca bagian itu serta memberikannya pada orang selanjutnya buat mulai membaca. Jadi sehabis aku membaca bagian aku, aku mengutip kopian kedua Artemis aku serta mengutip pas di tempat aku tinggalkan. Lewatkan sebagian menit ke depan, kembali ke kesempatan aku buat membaca, serta lagi- lagi aku tidak ketahui di mana kita terletak. Jadi guru memandang aku, memandang novel di tangan aku, kemudian kembali ke mejanya nyata bimbang sedetik. Namun mengabaikannya sebab mengenali kalau akulah yang ia hadapi( aku sempat menimbulkan permasalahan seragam semacam ini tadinya), mengutip novel kedua aku serta meletakkannya di mejanya, serta membuat aku membaca bagian aku. Saat ini temanku yang bersandar 2 bangku dariku pula membaca Artemis pada dikala yang serupa denganku serta dengan pemikiran sejenak ia ketahui benar apa yang saya agendakan. Ia mengeluarkannya serta memberikannya tanpa ayal. Aku membuka ke tempat random serta cuma berbohong semacam aku lagi membaca.( Pada langkah ini cuma buat mencampuradukkan guru aku.) Jadi lompatlah lagi serta guru aku memandang aku dengan novel itu lagi serta mengatakan,” Berapa banyak yang kalian punya?” Aku membagikan pendapat pintar aku bagaikan” lumayan.” Ia mengutip novel itu pula. Namun saat ini pada titik ini aku kehilangan novel, serta semua kategori aku ketahui itu. Tetapi gurunya tidak ketahui aku pergi. Jadi ia meneruskan pelajarannya serta sahabat aku yang lain mengutip 2 bukunya serta mengubah 2 novel Artemis di mejanya supaya nampak semacam sedang terdapat di situ. Ia mendistribusikan buku- buku itu lambat- laun ke sekitar ruangan, satu per satu, hingga kembali kepadaku. Kemudian aku mengutip satu, membuka ke tempat random serta lalu membukanya, menunggu buat terjebak. Aku bisik- bisik berikan pertanda pada sebagian orang di kategori serta mereka mulai tersimpul. Guru memandang apa yang mereka tertawakan serta memandang aku dengan novel lain. Ia memandang ke mejanya di mana kelihatannya terdapat 3 novel Artemis serta melihatku dengan yang ke- 4. Ia mengambilnya, berjalan kembali ke mejanya, meletakkannya, berputar, serta memandang aku dengan novel kedua yang didapat kembali di mejaku!!! Guru beranggapan ia hendak memenangkan game ini namun menyepelehkan kegiatan regu aku dengan sahabat selevel aku. Jadi sedemikian itu ia menghadiri aku buat mengutip novel yang kelihatannya ke- 5, sahabat selevel yang lain mengutip kembali 2 novel yang lain dari mejanya serta membaginya— mengirimkan satu pada aku dengan satu metode, serta kebalikannya dengan metode lain. Guru amat bimbang serta tersimpul histeris pada dikala ini serta tidak terdapat lagi pengajaran yang lagi berjalan. Semua kategori pula berupaya memandang siapa yang hendak berhasil. Itu cuma game” Berapa banyak novel yang dipunyai oleh anak kategori 8 ini?” Jadi di akhir kategori ia beranggapan ia sudah mengutip 11 novel dari aku. Aku iba padanya serta berikan ketahui ia apa yang sesungguhnya terjalin. Aku berkata kepadanya kalau aku sudah membaca novel awal, serta seluruh kegiatan regu yang bersinambung. Kita berdua tersimpul serta berbual. Pada kesimpulannya ia sepakat buat memperbolehkan aku membaca novel aku sendiri sepanjang aku senantiasa melacak novel yang sesungguhnya kita baca.( Maksudnya, aku memohon orang di sisi aku berikan ketahui aku bila kesempatan aku serta mereka membuktikan tempat aku buat membaca alhasil aku tidak betul- betul wajib mengingatnya.)

Guru kesukaan aku: Sesuatu kali di kategori 6 kita lagi rehat serta kala aku berlari ke sahabat aku, aku bertepatan menendang batu BESAR( butuh diketahui, aku mengenakan sandal apit alhasil sakit sekali) serta tanpa sembari berasumsi, saya berteriak semantap daya” MOTHERFUCKER!” Serta dengan keberhasilan aku yang amat besar, guru matematika aku bersandar di kursi pas di sisi aku. Ia setelah itu bawa aku ke dalam apa yang aku pikir meneriaki aku, namun ia tidak dapat menyudahi tersimpul serta mengirim aku kembali ke luar dengan satu batang permen harfiah. Ia sedang guru kesukaan aku yang sempat aku punya.

Lotion boy: Sesuatu kali di kategori kimia aku, kala guru lagi berdialog, orang ini menanya dengan keras,” Apakah terdapat yang memiliki lotion?” Guru menyudahi berdialog kala seseorang wanita memberinya losion tangan. Laki- laki itu meneruskan dengan lama- lama menyikat lotion di mukanya dikala semua kategori melihatnya dengan bimbang. Guru menanya kepadanya apa yang ia jalani, serta ia menanggapi dengan” Aku kurang ingat buat melembabkan pagi ini” serta meningkatkan lebih banyak pada mukanya. Guru memintanya buat berangkat ke auditorium buat menuntaskan pelembabnya sebab ia lagi mengusik, serta sehabis dekat 10 menit ia sedang belum kembali masuk, jadi seorang membuka pintu buat mengecek serta ia sedang mengoleskan lotion ke semua mukanya. Ia kesimpulannya kembali serta memberikan lotionnya pada wanita itu, serta ia telah memakai setengahnya. Saat ini orang memanggilnya lotion boy.

 

Author: work work

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *